Monday, June 11, 2012

Novel Tambelo dan Buku dengan Konten Dewasa Segera Ditarik dari Sekolah

Novel Tambelo dan Buku dengan Konten Dewasa Segera Ditarik dari Sekolah


BANDUNG, KOMPAS - Penemuan buku pengayaan di perpustakaan sekolah dasar dengan muatan konten tak sesuai umur harus ditindaklanjuti serius. Selain seluruh buku itu harus ditarik dari perpustakaan sekolah, harus dibentuk tim khusus untuk menyaring buku yang bakal menjadi koleksi sekolah.


”Pasti harus diusut pihak yang membuat buku seperti itu ada di perpustakaan,” ungkap Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, di Bandung, Senin (11/6).

Jumat lalu ditemukan muatan tidak pantas pada buku pengayaan di beberapa SD di Bandung. Beberapa bagian isi buku seharusnya baru layak dibaca orang berusia 18 tahun ke atas, karena memuat tulisan vulgar mengenai kekerasan dan perilaku seks bebas, serta kata umpatan.

Sejumlah guru menduga buku itu diberikan melalui dana alokasi khusus (DAK) Provinsi Jabar. Tetapi, hal itu dibantah Heryawan. Pemerintah Provinsi Jabar tak memberikan bantuan buku melalui DAK. Yang melakukan pemerintah kota/kabupaten.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jabar Wahyudin Zarkasiy mengatakan, kewajiban menyaring buku yang akan diberikan pemerintah pusat ada pada Pusat Perbukuan dan Kurikulum. Sekolah yang menerima juga harus menyaring buku agar tidak ada kejadian serupa terulang lagi.

Diakui Wahyudin, pada 2009 dan 2010, Pemprov Jabar pernah mengucurkan bantuan buku paket pelajaran sebanyak 28 juta eksemplar. Bantuan dalam bentuk novel untuk pengayaan itu hasil karya tulis Rancage.

Pemprov Jabar meluncurkan bantuan pembangunan ruang kelas baru sebanyak 4.268 unit untuk sekolah swasta di Jabar. Bantuan itu, lanjut Heryawan, akan dikelola mandiri atau dibangun tanpa tender dahulu.


Ada Kisah Dewasa di Perpustakaan SD


Novel berjudul Tambelo: Kembalinya Si Burung Camar dan Tidak Hilang Sebuah Nama secara sekilas terlihat seperti buku pengayaan biasa, didistribusikan oleh pemerintah untuk perpustakaan SD di Kota Bandung, Jawa Barat. Setelah dibaca, ternyata dua buku itu memiliki kandungan yang tidak pantas dibaca pelajar tingkat SD.

Dua novel tersebut memuat beberapa paragraf berisi beberapa hal yang tidak pantas dibaca pelajar. Sebut saja novel Tambelo yang dikarang oleh Radhite Kurniawan, memuat potongan dialog berisi kalimat yang vulgar seperti umpatan, mendeskripsikan perempuan layaknya pekerja seks komersial, hingga seks pranikah yang berujung kehamilan. Semua tertulis gamblang di sana.

Buku pengayaan itu ditemukan di perpustakaan SD Cempaka Arum Kota Bandung. Buku tersebut diterima sekolah dari pemerintah sebagai salah satu program pengadaan buku untuk perpustakaan.
Kepala SD Cempaka Arum, Ahmad Taufan, merasa miris saat mendapati kalimat-kalimat vulgar seperti itu. Dia pun memberi tanda pada beberapa bagian yang tidak pantas, kemudian melaporkannya kepada Dinas Pendidikan Kota Bandung.

"Buku ini seharusnya dikonsumsi orang yang berusia 18 tahun ke atas, bukan pelajar SD," ujar Taufan, Jumat (8/6/2012) di Bandung.

Sepengetahuan Taufan, buku tersebut diterima sekolah pada Januari 2012 melalui program pemerintah. Distributor buku tersebut berkantor di Yogyakarta.                            

0 comments: