Showing posts with label inspiratif. Show all posts
Showing posts with label inspiratif. Show all posts

Thursday, January 3, 2013

Tips Kesiapan Anak Menjelang Masuk Sekolah Dasar

Tips Kesiapan Anak Menjelang Masuk Sekolah Dasar

Oleh Wijanarko Dwi Utomo (sumber kompasiana)

Peristiwa tahunan menjelang tahun ajaran baru selalu membuat hati para orang tua berdebar-debar, khususnya yang memiliki anak di masa transisi dari taman kanak-kanak ke sekolah dasar. Loket pendaftaran SD baru kami ketahui sudah dibuka sejak bulan Juli tahun lalu, atau sama dengan 1 tahun sebelum si anak mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.

Proses yang kami lalu sebagai calon orang tua murid di sebuah sekolah dasar adalah membeli formulir pendaftaran, mengisinya dengan lengkap dan kemudian mengumpulkan kembali kepada pihak sekolah. Pada saat pengumpulan formulir ini sang anak akan melalui tahap evaluasi oleh para calon gurunya.

Pertanyaan yang bergejolak di hati para orang tua adalah, “anak saya bisa nggak ya?”; “anak saya lulus gak ya?”; dan sebagainya.

Kira-kira apa yang perlu diperhatikan oleh orang tua agar anaknya mampu lulus di fase evaluasi ini? Hasil ngobrol dengan seorang guru SD, anak-anak di sekolah dasar tuntutan yang paling utama adalah kesiapan dan kematangan untuk belajar.

Apa saja indikatornya perilakunya?

1. Anak sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain (teman dan guru).
2. Anak mampu memahami instruksi yang diberikan oleh guru.
3. Anak mau duduk tenang di dalam kelas.
4. Anak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru secara lisan dengan jelas.
5. Anak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah barunya.

Apakah kemampuan CaLisTung penting untuk dikuasai di awal? Menurut nara sumber kami, hal itu tidaklah penting. Hal yang paling penting adalah ke-5 indikator tadi, yang merupakan indikator kesiapan dan kematangan anak untuk belajar. Hasil pengamatan langsung beliau menyatakan bahwa anak yang sudah siap dan matang untuk belajar relatif mudah menguasai kemampuan baca, tulis dan hitung.

Semoga bermanfaat.

Salam!
»»  read more

Thursday, November 29, 2012

Kurikulum pendidikan 2013 Diubah, Pelajaran dikurangi

Kurikulum pendidikan 2013 Diubah, Pelajaran dikurangi. Ganti menteri ganti kurikulum. Itulah yang terjadi di dalam sistem pendidikan di negeri ini. Kebijakan perubahan kurikulum untuk tahun ajaran 2013/2014 kpun menuai kritik dari para pengamat pendidikan dan juga para guru yang nantinya akan menjadi ujung tombak dalam penerapannya. Ini menunjukkan, pendidikan di Indonesia tidak memiliki visi dan misi yang jelas.

»»  read more

Miris, Masih Ada Guru yang Digaji Rp. 150 Ribu

Bagaimana mau mencerdaskan bangsa jika bangsa ini tidak menghargai keringat guru, Miris, Masih Ada Guru yang Digaji Rp. 150 Ribu. Prihatin, di Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November lalu, ini masih ada guru honorer yang digaji di bawah standar upah minimum. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Sulistiyo mengatakan para guru honorer di Tanah Air saat ini kondisinya memprihatinkan, itu akibat ketidakjelasan status mereka. "Guru-guru honorer penghasilannya di bawah upah minimum. Padahal kewajiban yang dijalankan sama dengan guru PNS. Ini tentu membuat guru-guru ini kesejahteraan hidupnya di bawah rata-rata pendapatan yang diperoleh hanya sekitar Rp500 ribu, bahkan ada yang hanya Rp150 ribu," kata Sulistiyo usai peringatan Hari Guru di Kantor PGRI Jakarta.
»»  read more

Saturday, June 16, 2012

Murid-murid yang Rindu Kasih Sayang

mengenai strategi pembelajaran, strategi mengajar.
Berikut ini kisah seseorang yang semoga dapat meningkatkan kualitas kita dalam mengajar, sebuah kisah yang semoga membuka pengetahuan kita mengenai strategi pembelajaran, strategi mengajar.
***
"Pak, ada satu siswa di kelas saya yang kurang bersemangat saat di kelas," cerita salah seorang mahasiswa PPL di sebuah sekolah di Kecamatan Seyegan Sleman pada saya. "Kalau saya minta berpendapat dia diam. Kalau saya minta maju ke depan, dia tidak mau. Kerjaannya bikin onar dalam kelas. Mengganggu yang lain." Saya tidak tahu pasti bagaimana kondisinya. yang dapat saya lakukan hanya membayangkan situasinya. Maka, pada sahabat mahasiswa tersebut, saya hanya mengajaknya sharing, dan menyampaikan beberapa prinsip dasar saja.

"Menurut saya," saya berusaha menanggapi ceritanya, "setiap anak yang mengalami demotivasi, pasti punya background yang melatarbelakanginya. Inilah yang perlu kita ketahui. Hindari memvonis. Jadikan ia seorang sahabat." Hanya itu yang saya sampaikan. Intinya, jangan gemar dan gampang menjustifikasi murid. Yakinilah, Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal. Para pendidik seyogyanya disibukkan untuk bersahabat dan berdekatan dengan anak-anak dan tidak diribetkan dengan hal-hal administratif semata. Ini tidak berarti bahwa perkara administratif diabaikan. Sama sekali tidak!

Tapi, ketika calon guru hanya diarahkan tentang bagaimana presentasi yang prosedural dan merancang rencana pembelajaran yang sesuai aturan, saya yakin, ia akan mengalami kegagapan tatkala berhadapan dengan murid-murid di depan kelas. Telah banyak korbannya. Para guru yang sibuk dengan hal-hal administratif, tetapi tidak berani bertindak kreatif, dan mengalami kesalahan paradigma dalam memandang keragaman anak-anak.

Nah! kembali pada cerita di atas, sahabat mahasiswa tersebut lalu berusaha dekat dan akrab dengan sang murid. Sampai akhirnya ia berhasil menjadi sahabat dengan sang murid. "Orangtuanya jadi TKW di Malaysia, Pak. Dua-duanya. Di Seyegan dia tinggal dengan neneknya," cerita mahasiswa saya itu dengan antusias. "Wah, untung saya tidak memvonisnya. saya kira yang dia butuhkan adalah perhatian dan kasih sayang, bukan vonis kejam dari guru-gurunya."

Plong! Saya menganggap pengalaman tersebut jauh lebih berharga daripada praktik yang kami lakukan di kelas micro-teaching. Saya bahagia dapat menemani teman-teman calon guru itu menemukan sendiri pengalaman mereka yang luar biasa.

Tak ada kebahagiaan yang menggetarkan guru, selain ketika ia mampu mengantarkan murid-muridnya yang dianggap bermasalah dan disingkirkan menjadi pribadi yang bermakna. Saya sadar, guru-guru yang memberi kasih sayang lebih kepada murid-muridnya akan dianggap anomali oleh teman-teman guru yang lain. Boleh jadi ia akan dicibir, dianggap sok jagoan, dan penyudutan yang lain, sampai suatu ketika budaya sekolah benar-benar berubah. Dan, anak-anak sekolah serasa di rumah. []

Pemerhati pendidikan, Dosen UNY
»»  read more

Thursday, June 14, 2012

Anak-anak yang Disingkirkan Sekolah


Kemarin ibu saya telepon. Beliau mengabarkan bahwa seluruh murid-muridnya lulus. Ada bangga terselip dalam cerita beliau. "Alhamdulillah, mas," kata ibu, "anak-anak semua lulus, meski peringkat sekolah tidak beranjak, tapi rasanya bangga." cerita pun berlanjut.

Ada seorang ibu yang saking gembiranya ia mengucap terima kasih, bahkan memberi hadiah beberapa guru. "Terima kasih, anak saya telah diterima dan dididik di sekolah ini sampai lulus," kata seorang ibu yang berprofesi sebagai wartawan sambil menangis, seperti dituturkan kembali oleh ibu saya. Sang ibu sangat berterima kasih pada sekolah. Pasalnya, anaknya adalah anak 'buangan'.

Awalnya ia sekolah di sekolah dasar favorit: rsbi! Tapi, karena prestasi akademiknya dianggap merosot, ia pun disingkirkan, dibuang ke sekolah yang dikepalai ibu saya, yang dianggap sekolah pinggiran. Ternyata kasus pembuangan anak-anak dari sekolah favorit ke sekolah pinggiran itu telah jamak dilakukan. Di sekolah ibu saya saja ada delapan anak yang mengalami nasib mengenaskan itu. Delapan anak adalah angka yang besar. Ini hanya di satu sekolah yang menerima. Ada berapa sekolah lagi yang dilimpahi anak-anak 'terbuang' ini?

Kejahatan sekolah, demikian ibu saya mengomentari praktik mengenaskan ini. Sekolah-sekolah yang dianggap unggulan (khususnya yang melakukan kejahatan terhadap muridnya) ternyata tak lebih dari sekolah tempat berkumpul anak-anak pintar dengan para guru yang tak mau 'rekoso' membimbing anak-anaknya. Untuk menjaga citra dan ranking sekolah, mereka rela membuang anak-anak ke sekolah lain. Saya bayangkan anak-anak yang terbuang itu akan mengalami demotivasi yang semakin akut. Alih-alih dibimbing dan di sayang, eh, kok malah dibuang. Maka, tak mengherankan jika orangtua siswa begitu berterima kasih pada sekolah yang memanusiakan murid-muridnya.

Dengan berseloroh dan bercanda saya katakan pada ibu, "Semestinya anak-anak yang belum bisa paham di sekolah pinggiranlah yang dipindah ke sekolah unggulan, Bu. Agar anak-anak itu bersentuhan dengan guru-guru yang telah berhasil memahamkan murid-muridnya, bukan malah sebaliknya. Kalau sekolah itu telah berhasil membentuk anak-anak 'cerdas' sekarang dicoba mencerdaskan anak-anak yang dianggap terlambat itu." Tentu saja tidak ada sekolah yang menganggap dirinya unggul, yang bersedia menerima murid-murid kurang pintar. 

Ah, masih banyak pe-er yang harus kita selesaikan. Seandainya ada banyak orang yang merelakan dirinya menjadi relawan pendidikan, agar sekolah-sekolah di negeri ini lebih berdaya, tanpa mengandalkan pemerintah (yang kadang terjebak pada program bagi-bagi proyek, sehingga kurang menyentuh akar masalah), saya kira ada yang dapat ditingkatkan, sekecil apapun itu. []

Pemerhati pendidikan, Dosen
»»  read more

Wednesday, June 13, 2012

Indonesia Mengajar Kirim Pengajar Muda Dikirim ke Daerah Terpencil

Indonesia Mengajar Kirim Pengajar Muda Dikirim ke Daerah Terpencil


Jakarta, Kompas - Indonesia mengajar kembali mengirim pengajar muda ke daerah terpencil. Wakil Presiden Boediono untuk keempat kali melepas puluhan pengajar muda yang tergabung dalam program Indonesia Mengajar. Sebanyak 71 pengajar akan mengajar setahun di sepuluh kabupaten di daerah terpencil.

Keberadaan pengajar muda memberi optimisme semangat kebangsaan. ”Saya bangga. Di tengah orang skeptis karena nilai-nilai Pancasila dianggap luntur, saya lebih optimistis,” tutur Boediono didampingi Ny Herawati Boediono, Rabu (13/6), di Kantor Wakil Presiden.

Ke-71 pengajar muda Indonesia Mengajar angkatan IV itu lulusan 30 perguruan tinggi. Lima perguruan tinggi di antaranya di luar negeri. Sebanyak 24 pengajar lulusan baru, sedangkan 48 orang sudah bekerja.

Menurut Boediono, kehadiran pengajar muda di daerah terpencil bisa memberi optimisme. Keikutsertaan mereka dalam Indonesia Mengajar sekaligus akan memperkaya pengalaman. ”Ini bentuk pengalaman yang tidak ada di sekolah,” ucapnya.

Penggagas Indonesia Mengajar Anies Baswedan menyatakan, Boediono selalu punya waktu melepas pengajar muda. Bahkan, sebelum Indonesia Mengajar diluncurkan, Wapres ikut andil.

Para pengajar muda itu, menurut Anies, diseleksi dari 8.501 pendaftar. Mereka yang lolos seleksi lalu mengikuti pelatihan tujuh minggu dengan materi kepemimpinan, survival, dan metode pengajaran. Materi pelatihan survival diberikan Komando Pasukan Khusus TNI AD.

Para pengajar itu akan diberangkatkan ke-10 kabupaten terpencil, hari ini dan besok. Mereka menjadi pengajar di sekolah-sekolah terpencil.
»»  read more

Monday, June 11, 2012

Mutia, SNMPTN dalam gelap dan Cita-citanya Menjadi Guru

Meutia Dara Herlani bersama ayahnya, Didin. Meski tunanetra, Meutia mengikuti SNMPTN untuk bisa masuk ke UPI Bandung, Selasa (12/6/2012). Dia ingin jadi guru.


BANDUNG, KOMPAS.com- Meutia Dara Herlani adalah seorang peserta ujian saringan nasional masuk perguruan tinggi negeri yang mengalami kebutaan total. Kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk mengikuti ujian saringan nasional masuk perguruan tinggi negeri.
»»  read more